Syair ini berasal dari Bahasa Arab, yang artinya bersajak. Dalam bahasa Aceh di sebutlah sya’e atau caé. Caé itu aslinya syair yang artinya prosa liris yang ada sajaknya. Bahwa pepatah, petatah petitih, pantun, nasehat, sampai kepada pelajaran pelajaran fiqih, pelajaran agama di susun dalam bentuk syair. Dengan syair ini mudah sekali di hafal, caé ini bisa saja lepas lepas, bisa saja membaca pantun pantun, bisa membaca hikayat dalam bentuk cerita yang unik, tapi ada juga yang lepas-lepas.( Y. Sabi, “Hasil Wawancara Penulis dengan Guru Besar UIN Ar-Raniry,” 2021.)
Caé merupakan salah satu pernak-pernik peradaban Aceh yang ditinggalkan pada era Aceh sangat gemilang, syair atau dalam bahasa Aceh yang akrab dengan sebutan caé dalam yang berarti bersyair mengungkapkan sesuatu dengan irama-irama yang indah baik itu berkaitan dengan bidang umum, kearifan lokal, maupun keagamaan. (T. A. Hamid, “Hasil Wawancara Penulis dengan Kolektor Manuskrip Kuno Aceh,” 2021.)
Awal keberadaan caé Aceh bermula pada abad ke-16, di masa Aceh berbentuk kerajaan serta bernafaskan keislaman. Kesusastraan Aceh terkhususnya caé telah berkontribusi besar dalam penyebaran dakwah. Hasil karya kesusastraan Aceh berbentuk caé pada masa tersebut di gunakan pada kepentingan dakwah. Oleh sebab itu kebudayaan (kesenian dan sastra) Aceh dapat di katakan berjalan beriringan bersama dengan dengan kebudayaan Islam.
Hal ini merupakan syair atau yang lebih akrab di sebut caé. Seni sastra yang juga seni tutur yang ditulis atau yang ditutur ini seperti(M. Husen, “Hasil Wawancara Penulis dengan Penggiat Seni Tutur Aceh,” 2021.);